Aku hanya berani sekali-kali mengintip dari pintu yang membatasi teras depan dengan ruang tamu, setelah itu barulah ruang nonton tv. Tangan kananku langsung saja menelusup ke selangkangannya. Film Porno “Adik”-ku ini memang sudah menegang sempurna sedari tadi, namun tak sempat kuperlakukan dengan selayaknya. Dasar otak keparat, diserang nafsu, dua tiga detik kemudian aku mendapatkan caranya. Yang aku lakukan hanya refleks menutup mulutnya dengan tangan kananku. “Nyokap ke mana?” tanyaku lagi. Kugoyangkan perlahan pinggulku, penisku keluar masuk dengan lancarnya. Aku makin intens menggoyang pinggulku. Kemudian dia hanya menangis terisak. Jawabanku yang penuh kegamangan itu malah membuat Marta makin naik pitam. “Marta, maaf, maaf. Posisi kaki Marta jadi menjepit tubuhku, karena dia sudah tak bercelana, aku bisa melihat vaginanya dengan kelentit yang cukup jelas. Aku telah memperkosanya. “Heh! Mungkin aku belum sempat menyadari situasinya.




















