Aku menjadi takut.“Ma… maafkan saya, tuan. Bokep Family Untuk… tuan. Setelah itu mulai mempersiapkan dapur, memasak nasi, air panas… Aku mempersiapkan sarapan pagi. Kulihat tuanku sudah mengeluarkan penisnya, tegak mengacung.Tanpa perintah kata-kata, aku tahu itu adalah tanda. Aku merasakan tangannya mengelus kedua pantatku. Kalau tuan mau meniduri saya… rasanya bahagia.”
“Jangan… jangan bilang begitu…” Aku tersenyum sedih.Aku mengangkat wajah, memandangnya. Mataku memandang penisnya yg melemas, masih basah berlendir.“Kak Edo… saya terima kenyataan. Televisi menyala, berita diisi tentang genangan air dan banjir Ibukota. Menghisap kelentitku. Tapi, aku belum pernah meniduri perempuan. Aku ingin memasukkannya kembali. Aku mengerti. Masuk. Tapi aku merasa indah, dan mendengar kata-kata cintanya, walau aku tahu ini tdk mungkin, aku sangat bahagia. Gagah sekali. Kak Edo mendorong kembali dengan kekuatan besar. Keesokan paginya, jam empat pagi aku bangun dengan pikiran kusut tak karuan.




















