Hah..? Bokep Ojol Aku duduk di tepi dipan. Langkahku semangat lagi. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Membuatku tidak berani. Aku menggelepar.“Sst..! Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Ke mana ia? Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku.




















