Aku mengangguk.Kini aku memeluk tubuh indah Eksanti dengan posisi menyamping, sedang Eksanti rebah menghadap ke atas langit-langit kamar. Bokeb sentuhan kejantananku di tangan membuat Eksanti merasa malu, tetapi hati kecilnya mau, ditambah sedikit rasa takut, mungkin. Mas ngomongnya sekarang vulgar banget”, balasnya sambil tersipu malu, lalu ia mencubit pinggangku. ternyata juga, kita pernah merasa deket Mas”, sepertinya Eksanti memafkan dan memaklumi perbuatanku barusan. “Aku tanya, kok malah balik nanya ke aku sih?”, ia bertanya dengan nada agak ketus. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya. dan bergoyang untuk menetralisir pengalaman yang dialaminya. Aku duduk di atas kasur yang digelar di atas lantai.Eksanti masih sibuk memakai pakaian yang bertebaran di atas sandaran kursi sofa. aku merasa kecewa sekali.




















