Tetapi nantinya saya kepingin menjadi notaris, seperti Pak Hendrik ini.Sebetulnya saya ditawari Pak Hendrik untuk menangani kantor pengacara yang akan didirikannya tadi. Resminya anak itu adalah anak Pak Hendrik (nama samaran). Bokep Montok Saya biasa memanggilnya Dik Mul, karena memang usianya baru 21 tahun, tiga tahun lebih muda dari saya. “Luar biasa!” mengatakan demikian sambil menggelengkan kepalanya.Atau ada yang menganggukkan kepala, “Biasa!”. Oleh karena itu tarip pemakaian saya juga tidak murah. Lalu dia bertanya siapa bapaknya. Pekerjaanku pelacur. Pelukan saya lepaskan. Bersama itu pula saya peluk kuat-kuat tubuh Mulyono. Wajah saya memang cantik. Waktu itulah dia menawari pekerjaan untuk saya, kesediaan untuk secara resmi menjadi suami saya dan tentunya melegalisir bayi yang akan saya lahirkan.Saya tidak tahu bagaimana dia mengurus tetek bengeknya di kantor catatan sipil dan bagaimana dia dapat menjinakkan isterinya.




















