Sementara burungku lebih jauh menjangkau ke dalam lembah nikmatnya. Kami berdua menarik nafas panjang. Bokep Montok Kuraih kamera yang masih di tangan kanannya kemudian kuberikan kepada istriku. Tidak sampai setengah jam kami sudah merasa betul-betul sebagai suatu keluarga yang akrab. Aku sudah menganggap ia sebagai istriku saja. Ia merintih kenikmatan, ia pasrah saja dengan keadaan yang terjadi, karena itu aku yakin bahwa rintihan itu bukan rintihan kesakitan, kalaupun ada, maka akan kalah dengan kenikmatan yang diperolehnya. Ia sudah berani menerima tawaran kami untuk ikut menginap bersama. Aku sudah tidak tahan untuk memasukkan seluruh burungku ke tempatnya yang terindah. “Ya nggak usah dibuka” ujarku, “Aku elus-elus aja ya bagian atasnya pakai punyaku”, bujukku. Akhirnya seluruh berat badanku kuhempaskan ke tubuh mungil itu. Pundaknya beberapakali bergerak merinding kegelian. Betul-betul suatu akhir pekan yang susah dilupakan. Sebagai laki-laki, aku sangat paham dari bahasa tubuhnya bahwa dia tidak menolak.




















