Cratt cratt…..Aku terkapar diatas tubuh kak Dewi. Aku kemudian hanya bisa pasrah, merintih dan mendesah. Bokep Thailand siapa kak ?”,
“Santi…yang dulu itu lho !”,
“Ohh…!”, aku mencoba mengingat. “OK, tenang aja !”, mulutku penuh roti, tapi pandangan mataku tak berkedip menyaksikan pinggul kak Dewi yang dibungkus pakaian dinasnya. Aku sendiri meraih majalah yang tengah dibaca Kak Dewi. Makin lama makin ngilu. Aku kemudian bergegas keluar rumah bermaksud mengunci gerbang. Semakin lama gerakan kak Dewi semakin liar, lalu pessss, TV mendadak padam. “Haloo..”,
Aku bergegas pergi, tak ingin mengganggu “sepasang kekasih” yang telepon-an. Setidaknya lebih baik dari pada kost-kostan. Dua wanita cantik, dua tubuh indah dengan kulit putih mulus, tanpa busana, tanpa penutup apapun. “Digimanain ?”, katanya berbisik perlahan. Pandang dari kiri dan kanan. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. “Ngilu…!”, kataku berbisik. Ya ampun ! Aku tidak tega melihatnya. Kak Dewi Pulang !!! Mungkin aku juga ketularan tidak waras, rasanya




















