“Please, pelan-pelan ya Bang..”, ujarnya pelan.Aku menggesekkannya terlebih dahulu, namun masih juga sulit saking terlalu sempitnya. Bokeb “Ya sudahlah Bang, jangan bercerita yang sedih-sedih”, katanya sambil mengibar-ngibarkan kemejaku yang tak di kancingnya, sambil berlari ke arah laut.Dengan cemas aku langsung memburunya, tapi A Sui malah berbalik. Sambil mengangkat pantat lembutnya, ia menyambut batang kekarku. Perlahan aku mengajaknya ke gubuk penyulingan minyak nilam tersebut. Pipinya yang tirus bersandar di dada bidangku sambil dengan perlahan mengecup puting perjaka dadaku yang terbuka lebar.Sungguh lihai dia memperjuangkan sumpahnya sehingga aku tergetar untuk sesaat tak mampu menolaknya. Sesekali payudaranya bergesekan dengan ‘dongkrak antik’-ku karena A Sui membenam-benamkan wajahnya. A Sui yang melihat wajahku hampir membentur cadas sungai, dengan sigap menarik tanganku.




















