Ana menggigit kencang bantal di mukanya, kukunya mencengkram kencang pantatku, vaginanya bagaikan vacuum cleaner super. Bokeb Ana meninggalkan pesan, “Nova sayang, kamu baik sama Ana, besok ngobrol lagi”. Aneh, seperti disirep, kucium pipinya, mulutnya…, berhenti lama di situ… mulut kami berpagut seperti memecah ribuan rindu. Dia memberi kode pada teman satunya untuk sedikit ‘menyingkir’ dari kami.Sampai di mejanya, dengan senyum yang tak pernah kubuat-buat kami akhirnya saling berkenalan. Sari mengangguk geli sambil ngeloyor membuat kopi.Begitulah, sedikit bahasa kami saat di udara sana. “Ssst, beliau baru ibadah !”, kataku. Kuturuti semua pesannya, “Nurut aku ya Nov, kamu diem aja, kalo gak bisa nahan ikutin naluri aja, jangan mikirin apa-apa, jangan pake teori… sekarang diem dan nikmatin aja…”. Kupandangi…, sengaja tak kucium, aku tahu Ana menunggunya. Tangannya menggapai-gapai meskipun ada tubuhku di depannya. Sungguh, pengalaman kali ini seperti dongeng.




















