Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yg masih menempel di tubuhku. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Bokep Mom Aq terpejam menahan air mani yg sudah di ujung. Angin menerobos kencang hingga seseorang yg membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Alamak.., jauhnya. Ia terus mengelap pahaku. Ia tersenyum ramah. Baru saja aq memasang ikat pinggang, Iin menghampiriku sambil berkata,“Telepon aq ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yg disobek sekenanya. Sudahlah. Haruskah kujawab sapaan itu? Tdk akan hadir kesempatan ketiga. Bodoh, bodoh, bodoh. Ayo..!Aq masih diam saja. Paling tdk ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Iin..,” gumamku dalam hati.Perlu tdk ya kutegur? Creambath? Ada cairan putih di celana dalamku.Di kantor, aq masih terbayang-bayang wanita yg di lehernya ada keringat. Hap. Atau mau gunting? Aq hanya main dengan tangan.




















