Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Film Porno Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan. Baunya memang agak lain, tetapi mampu membuat seorang bujang menerawang hingga jauh ke alam yang belum pernah ia rasakan.“Dik.., jangan dibuka lebar. Tapi ia dingin sekali. Kadang-kadang ketimun. Aku menggelepar.“Sst..! Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Si Junior sudah mengeras. Aku menggelepar.“Sst..! Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku.




















