Napasnya tersengal. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Bokep Tobrut Garis setrikaannya masih terlihat. Garis setrikaannya masih terlihat. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Ini kesempatan kedua. Bergantian Wien kini telentang.“Pijit saya Mas..!” katanya melenguh.Kujilati payudaranya, ia melenguh. Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Aku masih mematung. Aku tidak tahan. Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah.




















