Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Bokep Montok Sudahlah. Aku mengurungkan niatku. Jari tangan mulai dingin. Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya. Masih ada esok. Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Hitam. Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Ke mana ia? Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Aku tertipu. Shit! Apa katanya nanti? Daripada suntuk diam di rumah, tadi malam aku menyelesaikan kerjaan yang masih menumpuk.Kerjaan yang menumpuk sama merangsangnya dengan seorang wanita dewasa yang keringatan di lehernya, yang aroma tubuhnya tercium.




















