Mau memaafkanku?” Ia menatap mataku lama. Bokep Mama “Yah, lumayan. “Berdiri,” ia berbisik di telingaku. Pahanya dan betis yang putih terlihat saat ia mengangkat sebelah kakinya ke atas kaki yang lain. Aku memandangnya heran. Buah dadanya menekan dadaku, membuatku bingung. “Kamu lucu.”
“Hey !” protesku. Kemudian ia bergerak. Kulihat ia masih berdiri menghadapku dengan senyum di depan stereo set. Kami saling terpaku beberapa saat, sebelum akhirnya ia berkata, lebih mirip desis gusar,
“Kamu hanya mau diam begitu?”
“Sial,” makiku. Kulihat ia tersenyum menatap selangkanganku yang sudah terlihat menonjol. Ia balas menatapku. Ia mengerang lagi. Ia mirip omong kosong angin yang berlalu setelah menghembus di sisi wajahku. Kubungkukkan punggungku, meraih puting buah dadanya dengan bibirku. Tapi begini,” katanya seraya menurunkan lenganku yang terangkat. “Tenang,” bisiknya. Kulihat ia masih berdiri menghadapku dengan senyum di depan stereo set. Aku pasti membuatmu sakit.”
“Tak apa-apa juga. Kali ini senyumnya melebar.










