Tapi konsentrasiku terpecah karena Mang Parto menggigit dan menarik-narik kedua putingku bergantian dengan mulutnya yang sedikit ompong itu.Aku hanya mendesah menikmati jilatan demi jilatan di setiap senti kedua daging kenyalku. “Bener nih non, gak apa-apa?”, tanyanya lagi,
“Iya, bener, tapi jangan disini donk, gak enak, serem lagi”, balasku karena aku dikerjai di bangku kantin.“Yaudah, yuk ke gudang aja”. Bokep Cina “Lancar apanya?”. Baru saja bhku kulepas, Mang Parto langsung melahap kedua daging kenyalku. “Wah, jadi pengen cepet-cepet”.Tanpa terasa sudah di depan gudang, lalu kami berdua masuk ke gudang. Setelah aku cari-cari tidak ketemu dan juga keadaan bertambah seram, aku berniat untuk pulang ke rumah, tapi sebelumnya karena suasana yang lumayan dingin, aku jadi ingin ke kamar mandi.Setelah aku menyelesaikan “panggilan alam”, aku mencuci tanganku di wastafel, lalu aku mengaca di depan kaca besar yang ada di sebelah wastafel untuk merapihkan pakaian dan rambutku.




















