“Itu mah udah ML lagi!”
Aku juga tertawa, “Maklumlah. Vidio Porno Bibirnya terasa basah dan hangat. Dan sesaat kemudian, ia sudah duduk diatas pangkuanku. Mana ada pikiran yang lain. “Waktu itu masih polos. Bahuku terasa semakin sakit. Namun yang pertama yang pernah kucium sepanas ini. Setelah memandangiku sesaat, dan bibirku yang berdarah, ia kembali ke kursi kemudinya dan menyalakan mobil. Sa-sakit, Fung.” Aku berusaha untuk melepaskan diri. Beberapa kali di kamar kostku, di toilet restoran tempat kami singgah untuk makan malam, di closed-cyber yang biasa kami kunjungi. Entah itu sekadar jalan-jalan, window shopping, internet surfing, makan bareng, atau bahkan berolahraga berdua diakhir minggu. Dia menghargaiku, dan aku menyukainya. Mungkin dikarenakan aku membuka pikiranku sedemikian rupa, sehingga tidak ada yang namanya beban berat di bahuku.Dan, oleh karena itu, aku mempunyai satu tujuan belajar internet. Dan bahkan sedikit menggigit sesekali. “Ngapain kok kasar?”Seperti disiram air sedingin es, Fung tersadar.




















