Tetapi eh.., diamdiam ia mencuri pandang ke arah penisku. Tapi ia dingin sekali. Bokeb Aq masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Aq memandang ke arah lain mengindari adu tatap. ujar suara wanita muda yg kemarin menuntunku menuju ruang pijat. Langkahku semangat lagi. Duduk di tepi dipan. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Ia berdiri. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yg penuh gelora itu. Si Anis, yg tadi. Aq tdk tahan. Aq perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Aq pertegas bahwa aq mengendus kuatkuat aroma itu. Iin datang. Aq hanya main dengan tangan. Ya nggak apaapa, katanya menjawab telepon. Atau apalah? Matanya dikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain di belakang angkot. Matanya dikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain di belakang angkot. Aq menurut saja. Benarkan kesempatan itu lewat. Tapi belum tersentuh kepala penisku. Sudahlah. Mbak Iin sudah turun.




















