“pejamkan matamu.”
Saat kupejamkan mataku, kenikmatan tiada tara merasukiku, kala ia menggerakkan jemarinya yang menggenggam batang kemaluanku. Bokep Korea Kubalikkan tubuhku dengan kesal, lalu melangkah kembali ke sofa. Sudah sering kudengar tentang hal ini dari canda teman-temanku. Kupejamkan mataku, menghisap buah dadanya, dan memainkan jemariku. Entah berapa lama kami berpagutan, dengan kedua lenganku memeluk tubuhnya. Nada tak senang terdengar saat ia berucap. Aku baru sadar, bahwa jarak antara wajahku dengan wajahnya hanya sekitar tiga puluh senti. Teruskan.” Aku tak tahu apa maunya sebenarnya. “Shall we dance?” katanya, membuat tawaku berhenti. “Suasana yang tak menyenangkan, kurasa,” ucapnya. Jangan buatku kecewa.”
Aku tertawa dan bangkit dari sofa, lalu mendekatinya. Mungkin aku sedang bermimpi, saat kudengar ia bersenandung seolah menidurkanku. Ia menggelinjang saat kumemasukkan jari tengahku ke liangnya. Ia tertawa. “Kamu…,” ucapku. Kurasakan sesak yang luar biasa. Ia mengulurkan tangannya, berusaha mendorong perutku.




















