Ia tersenyum ramah. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Bokep Ia memulai pijitan. Aku harus memulai. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku.Ke mana ia? Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Ia tidak lagi dingin dan ketus.Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon.Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Hawin, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Itu artinya ia tidak mau diganggu. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Satu dua, satu dua. Kaki disandarkan di dinding. Ia tersenyum melihatku.“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.Ia mencari-cari. Sekali. Tunggu apa lagi. Ah. Aku hanya main dengan tangan. Ke bawah: Tidak. Karena itulah, tidak akan




















